Tag

, ,

Candi BorobudurCandi Borobudur secara administratif terletak di Desa/Kecamatan Borobudur, Magelang. Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Rafles, Gubernur Jendral Inggris di Jawa. Kemudian banyak orang-orang belanda yang meneliti Candi Borobudur, di antaranya adalah J.W. Ijzerman, Th van Erp, dan N.J. Krom. Selanjutnya Candi Borobudur mengalami dua kali pemugaran, yakni pada tahun 1907 oleh van Erp dan tahun 1973 yang dipimpin oleh Dr. R. Soekmono.

Belum ada keterangan secara pasti kapan Candi Borobudur didirikan. Namun berdasarkan penelitian, bentuk huruf jawa kuno yang terdapat pada bagian atas panil relief karmawibhangga berasal dari abad IX. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pemikiran J.G. de Casparis, yang menduga bahwa Candi Borobudur didirikan oleh raja Mataram Kuno bernama Samaratungga beserta putrinya, Pramodhawarddhani. Pendapat ini didasarkan pada prasasti Karang Tengah (Kayumwungan) dan Sri Kahulunan (Tru i Tpusan).

Berdasarkan struktur candi dan reliefnya, disimpulkan bahwa latar belakang agama Candi Borobudur adalah perpaduan ajaran Budha Mahayana dan Tantrayana, dengan meditasi filsafat Yogacara. Candi Borobudur dihias relief naratif dan dekoratif yang kaya. Relief naratif menggambarkan adegan-adegan yang diambil dari beberapa sutra yakni cerita Karmawibhangga, Lalitavistara, Jatakamala, Awadana, Gandawyuha, dan Bhadracari.

KarmawibhanggaKarmawibhangga

Relief Karmawibhangga menggambarkan ajaran sebab akibat. Relief ini tidak tampak seluruhnya karena ditutup dinding kaki candi. Saat ini hanya relief pada sisi selatan saja yang ditampakkan. Diduga relief Karmawibhangga ini ditutup kaki candi untuk mencegah longsornya bangunan candi.

Relief Lalitavistara dipahat pada tingkat ke dua, menggambarkan kehidupan Budha Gautama sejak lahir sampai mendapat pencerahan di bawah pohon Bodhi dan di akhiri pada ajaran pertama di Taman Rusa.

Jataka dipahat pada tingkat ke dua dan ke tiga, menggambarkan perbuatan Budha pada kehidupan lampau dalam berbagai bentuk reingkarnasinya baik sebagai manusia maupun binatang, memberi contoh-contoh kebijakan dan pengorbanan diri. Sedangkan Awadana juga merupakan cerita Jataka, tetapi tokohnya adalah pangeran Sudhanakumara.

Gandawyuha dipahat pada tingkat ke tiga, empat, dan lima, menggambarkan Sudhana, putera saudagar kaya yang mencari kebenaran. Ia bertemu banyak pendeta dan Bodhisattva termasuk Siwa Mahadewa. Bagian akhir cerita dikenal dengan sebutan Bhadracari. Pada tingkatan selanjutnya tak ada relief melainkan dipenuhi dengan stupika, dan diakhiri dengan stupa puncak sebagai tingkat ke sepuluh.

Relief dan tingkatan Candi Borobudur menurut W.F Stutterheim dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan kosep dhatu, yakni kamadhatu – rupadhatu – arupadhatu. Karmawibhangga sebagai kamadhatu. Tigkat ke dua sampai enam (relief Lalitavistara, Jataka, Awadana, Gandawyuha, dan Bhadracari) sebagai rupadhatu. Tingkat ke tujuh sampai sepuluh adalah arupadhatu. Tiga tahap ini merupakan jalan yang harus ditempuh bagi mereka yang ingin mencapai Ke-Budha-an.

BorobudurCandi Borobudur memiliki 432 arca Dhyani Budha pada upadhatu, dan 72 arca pada arupadhatu. Pada tingkat pertama sampai ke empat sisi timur merupakan arca Dhyani Budha Aksobya dengan sikap tangan Bhumisparsamudra. Sedangkan pada sisi selatan merupakan arca Dhyani Budha Ratnasambhawa dengan sikap tangan Waramudra. Sisi barat terdapat terdapat arca Dhyani Budha Amitabha dengan sikap tangan Dyanamudra. Sisi utara terdapat arca Dhyani Budha Amoghasidha dengan sikap tangan Abhayamudra. Pada teras ke lima merupakan arca Dhyani Budha Wairocana dengan sikap tangan Witarkamudra. Arca-arca pada arupadhatu merupakan arca Dhyani Budha Vajrasattva dengan sikap tangan Dharmacakramudra.

Sumber: Sedyawadi E., Hariani S., Hasan D., Ratnaesih M., Wiwin D.S.R., dan Chaidir A. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa: Indonesian – English. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Direktorat Jendral Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan