Tag

, ,

candi gunungwukir

Candi Gunung Wukir terletak di puncak bukit dengan ketinggian 335 m dpl, secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kec. Salam, Magelang. Candi ini terdiri dari sebuah candi induk dan tiga candi perwara. Candi induk berhadapan dengan ketiga candi perwaranya. Kondisi candi candi tersebut telah runtuh dan banyak dari bagiannya yang hilang, namun keberadaan yoni dan nandi masih terlihat jelas. Keberadaan yoni dan nandi menunjukkan bahwa Candi Gunung Wukir bercorak Hindu.

nandi gunung wukir

nandi pada candi perwara

candi gunung wukiryoni pada candi induk

Yang menarik adalah pernah ditemukannya Prasasti Canggal di area Candi Gunung Wukir. Prasasti Canggal memuat berita mengenai pendirian lingga oleh Sanjaya.  Saat ini lingga yang dimaksud sudah tidak ditemukan. Angka tahun pendirian pada Prasasti Canggal termuat dalam sebuah sengkala yang berbunyi “Sruti Indriya Rasa” (Sruti = 4, Indriya = 5, Rasa = 6) yang menyatakan tahun 654 Saka atau 732 M. Prasasti Canggal memuat 25 baris tulisan yang terbagi menjadi 12 bait.

Tafsir bebas isi prasasti adalah sebagai berikut:

Bait 1 : Pendirian sebuah lingga (simbol Siva) di bukit Kunjarakunja atas perintah Sanjaya

Bait 2-6 : Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu

Bait 7 : Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa

Bait 8-9 : Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung

Bait 10-11 : Pengganti raja Sanna yaitu bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari.

Bait 12 : Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.

Menurut Bosch merujuk pada isi Pasasti Dinoyo (dari Kerajaan Kanjuruhan) yang juga memberitakan pendirian lingga oleh Gajayana; Pendirian lingga oleh raja memiliki empat faktor yang saling melengkapi antara lain: Siwa, lingga, kekuasaan, dan legitimasi sebagai keluarga raja. Jadi jelas sudah makna pendirian lingga oleh Sanjaya di Candi Gunung Wukir, sesuai dengan isi Prasasti Canggal yakni: Memuja Siwa; Lingga; Kekuasaan atas kerajaan yang ditinggalkan Raja Sanna, dan legitimasi atas keterkaitannya dengan keluarga raja yang memerintah.

candi perwara gunung wukirBeberapa pendapat menyatakan bahwa Sanjaya termasuk dalam wangsa Syailendra yang berkuasa atas Mdang (Mataram Kuno), sekaligus menafikan keberadaan wangsa Sanjaya. Karena memang tidak pernah dijumpai dalam prasasti manapun yang menyebutkan Sanjayavamca, sebaliknya ada beberapa prasasti peninggalan Mdang (Mataram Kuno) yang menyebutkan Syailendravamca.  Prasasti Kalasan dari tahun 778 M menyebutkan Śailendragurubhis; Śailendrawańśatilakasya; Śailendrarajagurubhis. Kemudian nama itu ditemukan di dalam Prasasti Kelurak dari tahun 782 M Śailendrawańśatilakena, dalam Prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 M dharmmatuńgadewasyaśailendra, Prasasti Sojomerto? M selendranamah dan Prasasti Kayumwunan dari tahun 824 M śailendrawańśatilaka. Di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam Prasasti Ligor dari tahun 775 M dan Prasasti Nalanda.

Namun demikian, ada pula beberapa prasasti yang menunjukkan keutamaan Sanjaya. Prasasti Matyasih 907 M keluaran Raja Balitung memuat daftar Raja-raja Mdang (mataram kuno) sebagai berikut: rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu, rakai mataram sang ratu Sanjaya, sri maharaja rakai Panangkaran, sri maharaja rakai Panunggalan, sri maharaja rakai Warak, sri maharaja rakai Garung, sri maharaja rakai Pikatan, sri maharaja rakai Kayuwangi, sri maharaja rakai Watuhumalang. Nama raja yang pertama kali disebutkan adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, mengapa bukan Dapunta Syailendra seperti yang termuat dalam Prasasti Sojomerto? Merujuk Pada Prasasti Calcuta (Pucangan) yang dibuat Airlangga untuk melegitimasi kekuasaan atas leluhurnya, raja yang disebut pertama kali adalah Pu Sindok dan bukan raja-raja Mdang terdahulu. Sebab dalam kasus ini Pu Sindok dianggap sebagai pendiri wangsa Isyana. Maka kurang lebih demikianlah kedudukan Sanjaya dalam Prasasti Matyasih sebagai wangsakerta Sanjayavamca.

Pada pemerintahan Pu Daksa juga dapat ditemukan keutamaan dari Sanjaya, yakni adanya penggunaan Sanjayawarsa dalam prasasti-prasastinya. Sanjayawarsa atau Tahun Sanjaya berselisih 717 tahun dengan masehi. Belum jelas acuan apa yang digunakan namun bisa saja tahun ini didasarkan dari kelahiran Sanjaya. Prasasti Taji Gunung mencantumkan tahun 193 Sanjayawarsa atau 910 M. Prasasti Timbangan Wungkal yang mencantumkan tahun 196 Sanjayawarsa atau 913 M.

Jelas lah di sini bahwa selain Syailendra, Sanjaya juga diperhitungkan dalam sejarah Mdang (Mataram Kuno), dan pendirian lingga di Candi Gunung Wukir merupakan tonggaknya.

yoni gunung wukir

opini penulis