Tag

, ,

candi sojiwan

Candi Sojiwan terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Candi ini merupakan salah satu monumen dari dinasti Mataram Kuno (Mdang) abad VIII –X Masehi. Candi ini didirikan sebagai bentuk penghormatan Raja Balitung untuk neneknya nini haji rakyan sanjiwana yang beragama Budha.

dwarapala candi sojiwan

Arca Dwarapala Candi Sojiwan, Dwarapala lainnya berada di depan Gedung Sunan Pandanaran Klaten.

Candi Sojiwan mulai dipugar pada tahun 1996. Selama kegiatan pemugaran, juga dilakukan penelitian arkeologi. Penelitian tersebut telah menemukan struktur parit keliling (sebagian ditampakkan), struktur pagar halamn I sisi utara dan sisi timur (telah direkonstruksi), stuktur pagar halaman II sisi utara (sebagian telah direkonstruksi), dan dua deret struktur Candi Perwara Stupa pada halaman sisi utara.

candi perwara stupa

Candi Perwara Stupa

Bagian kaki Candi Sojiwan memuat relief yang mengajarkan moral agama Budha dalam bentuk fable (cerita binatang). Berikut dongen-dongen yang termuat pada relief Candi Sojiwan:

Relief Prajurit dan Pedagang

dongen prajurit dan pedagang

Merupakan cerita Dhawalamukha yang terdapat pada Kathasaritsagara, menceritakan tentang seorang punggawa raja yang memilik dua sahabat, seorang prajurit dan seorang saudagar. Si prajurit siap melindungi bila punggawa mengalami gangguan, demikian juga saudagar siap memberi pertolongan dengan hartanya sewaktu-waktu bila punggawa memerlukannya. Punggawa itu ingin menunjukkan persaudaraan itu kepada istrinya, maka dengan sepertujuan istrinya ia berpura pura tengah mengalami kesulitan dan hal itu disampaikan kepada dua sahabatnya bahwa dia tengah ada masalah yang tidak terampuni oleh raja. Mendengar itu si saudagar berkata tak dapat berbuat apa-apa tetapi si prajurit menyatakan siap dengan pedang dan tamengnya untuk membela si punggawa.

Relief Seekor burung berkepala dua

dongeng seekor burung berkepala dua

Seekor burung bernama Bharanda memiliki dua buah kepala. Pada suatu ketika satu kepala mendapat makanan yang enak. Dia makan sendiri tanpa mau berbagi dengan kepala yang satunya. Tiap kali dia dimintai selalu menjawab bahwa nanti akan masuk ke perut yang sama pula. Begitu terus yang terjadi sehingga membuat kepala yang satunya jengkel. Akhirnya ia makan makanan beracun, meski diingatkan dia tetap memakannya sehingga akhirnya matilah si Bharanda.

Relief Ketam Membalas Budi

dongeng ketam membalas budi

Tersebutlah seorang brahmana bernama Dwijaiswara dari negeri Patala. Ia seorang penyayang binatang. Pada suatu masa ia tengah berada di gunung melihat seekor ketam bernama Astapada yang sekarat  karena kekeringan. Dipungutlah ketam itu lalu dibawa ke sungai untuk dilepaskan di sana. Karena kelelahan, berhentilah brahmana di dekat sungai dan tertidurlah brahmana bersandar pada sebuah pohon. Kemudian muncul lah seekor ular dan seekor gagak yang berusaha memangsa sang brahmana. Ketam yang mengetahui upaya tersebut segera menyelamatkan brahmana dengan cara mengelabuhi ular dan gagak. Ketam ingin membalas budi kepada brahmana yang telah menyelamatkan nyawanya. Ketam menghampiri ular dan gagak kemudian menyampaikan cara agar dapat memangsa brahmana dengan mudah dan nikmat, yakni dengan memanjangkan leher. Dengan tak sabar ular dan gagak menjulurkan leher ke arah ketam. Setelah keduanya teraih oleh capit ketam, dengan cepat dan kuat ketam menjepit leher ular dan gagak hingga keduanya menemui ajal. Dengan begitu selamatlah sang brahmana.

Relief Perlombaan Garuda dan Kura-kura

dongeng garuda dan kura-kura

Cerita diawali dengan keprihatinan para kura-kura yang selalu dijadikan makanan sehari-hari bagi burung garuda, sehingga jumlah kura-kura semakin berkurang. Terpikir siasat oleh tetua para kura-kura hendak mengajak garuda untuk lomba lari. Kalau kura-kura kalah, garuda boleh memakan kura-kura sampai seketurunannya nanti, namun jika garuda kalah, maka garuda harus berhenti memakan kura-kura. Perlombaan pun dimulai. Kura-kura menanam semua kura-kura di sepanjang pantai. Setiap garuda memanggil, maka kura-kura yang ada di depannya yang menyahut. Sampai di batas pertandingan ternyata kura-kura menang, kura-kura sampai lebih dulu dibanding garuda.

Relief Pertarungan Banteng dan Singa

dongeng banteng dan singa

Cerita dari jataka yang terdapat pada panca tantra dengan judul usaha memisahkan persaudaraan. Banteng bernama Syatrabah semula bersahabat dengan singa, tetapi karena fitnah Dimnah (seekor serigala), keduanya saling mencurigai dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Akhirnya keduanya mati karena fitnah.

Relief Laki-laki dan Seekor Singa

dongeng laki laki dan singa

Menceritakan tentang mimpi seorang menteri bernama Bhimaparakrama yang akan diserang singa, namun melihat Bhimaparakrama bersiap melawan dengan pedang dan perisai, singa itupun lari dan terus dikejar oleh Bhimaparakrama.

Relief Pemburu dan Serigala

dongeng pemburu dan serigala

Di sebuah negeri bernama Kalyanakataka tinggalah seorang pemburu yang bernama Bhairawa. Suatu ketika ia pergi berburu di pegunungan Windhya dan mendapatkan seekor kijang. Dipikullah hasil buruannya pulang. Sesampai di tengah jalan bertemulah ia dengan babi hutan yang amat menakutkannya. Segera ia turunkan pikulannya dan segera ia ambil anak panah beserta busur dan kenalah babi hutan. Namun kemudian terjadi perkelahian seru antara keduanya sehingga keduanya sama-sama mati dengan pemburu bersandar di pohon. Selang beberapa saat datanglah serigala yang sangat lapar ke tempat itu dan mendapati makanan yang berlimpah yaitu daging kijang, daging babi hutan, dan daging pemburu. Ia berkata “wah ini bisa jadi persediaan makan untuk satu bulan” serigala menyeringai kegirangan. Namun demikian, meski serigala sudah sangat lapar ia tidak langsung memakan daging yang tersedia. “baiklah, saya akan makan usus yang dipakai sebagai tali busur, baru kemudian baru saya makan daging itu”. Digigitlah tali busur yang terbuat dari usus, sehingga anak panah yang sudah terpasang dan siap tembak itu lepas dan mengenai langit-langit mulut serigala. Akhirnya serigala menemui ajal.

Relief Wanita dan Serigala

dongeng wanita dan serigala

Alkisah wanita yang masih muda dan amat cantik, dia isteri dari seorang petani tua namun amat kaya. Dia merasa tidak bahagia dalam hidupnya. Lalu ia berjalan-jalan bertemulah dengan seorang penyamun yang dengan liciknya memuji-muji kecantikannya. Berbanggalah wanita itu dengan pujian dari penyamun itu. Lalu wanita itu rela membawa seluruh harta suaminya untuk mengikuti penyamun itu. Dalam perjalanan itu sampailah ke pinggiran sungai, lalu muncullah akal licik penyamun untuk menguasai seluruh harta isteri petani tua itu. Dia mengatur agar barang diseberangkan dahulu lalu baru kembali lagi menjemput isteri petani tua tersebut. Seluruh harta beserta baju yang dipakai diseberangkan dulu agar tidak basah terkena air. Namun sejak itu penyamun tak pernah kembali lagi. Lenyaplah sudah seluruh harta dan isteri petani itu amat malu karena sehelai benangpun tak ada yang melekat pada badannya. Sementara ia duduk termenung datanglah serigala betina membawa sepotong daging di moncongnya, karena melihat ikan yang amat nbanyak di sungai maka sepotong daging itu ia lepaskan berharap untuk dapat menangkap seekor ikan. Tiba-tiba datang burung gagak menyambar daging itu dan segera pergi, sementara ikan-ikan mengilang berenang ke dasar sungai.

Relief Lembu Jantan dan Serigala

dongeng lembu jantan dan serigala

Tersebutlah seekor serigala jantan, memiliki isteri yang sangat ingin memakan buah zakar lembu. Meski di hutan banyak makanan lain namun isteri serigala berkeras untuk makan kantung zakar milik lembu jantan. Maka serigala mengikuti lembu kemanapun pergi berharap kantung zakar akan jatuh. Selama lima belas tahun ia ikuti lembu jantan kemanapun pergi namun yang dinanti tak kunjung terjdi. Setelah itu ia pulang dan mengatakan kepada isterinya bahwa yang diinginkan tak kunjung berhasil dibawa pulang.

Relief Buaya dan Kera

dongeng buaya dan kera

Seekor kera yang sebenarnya jelmaan sang Bodhisattwa tengah duduk di tepi sungai Gangga. Seekor buaya betina melihatnya dan timbul keinginan untuk memakan hati kera itu, maka ia berkata kepada suaminya agar ditangkapkan kera yang sedang duduk di tepi sungai Gangga. Buaya jantan pergi menemui kera dan memberitahukan bahwa di seberang sungai terdapat pohon yang sedang sarat buahnya dan lezat sekali rasanya. Buaya bersedia menyeberangkan sekiranya kera menghendaki makan buah tersebut. Maka naiklah kera ke atas punggung buaya dan berenanglah buaya menuju tengah. Sesampai di tengah sungai buaya jantan berterus terang bahwa isterinya berkeinginan sangat untuk dapat memakan hati kera. Berkata kera, bahwa ia sangat senang dan merelakan hatinya dimakan isteri buaya, tetapi sayang hati kera itu tertinggal di atas pohon. Maka diajaknya buaya kembali untuk mengambil hatinya. Tanpa pikir panjang buaya pun kembali mengikuti nasehat kera. Sesampai di tepi melompatlah kera ke darat dan tahulah buaya akan kebodohannya.

Sumber: BPCB Jawa Tengah