Tag

, , ,

Candi Kulon merupakan reruntuhan bangunan kuno yang berada di dua dusun, yakni Dusun Ngeblak dan Dusun Pulerejo, Prambanan, Sleman. Baik di Pulerejo maupun Ngeblak, reruntuhan Candi Kulon tercecer di sekitar aliran sungai yang oleh masyarakat setempat disebut Kali Londo. Candi Kulon diperkirakan memiliki hubungan dengan Candi Sewu di Klaten. Diketahui bahwa selain Candi Kulon terdapat beberapa candi kecil yang mengelilingi Candi Sewu dari empat arah mata angin. Di sebelah selatan terdapat Candi Bubrah dan Candi Lumbung, di sebelah timur terdapat Candi Asu/Gana, di sebelah utara terdapat Candi Lor, dan Candi Kulon sendiri terletak di sebelah barat. Kecuali Candi Kulon kesemua candi kecil tersebut secara administratif berada di Klaten.komplek candi sewu

Tata letak candi-candi tersebut menunjukkan sebuah konsep alam semesta dalam agama Budha, di mana Candi Sewu melambangkan Gunung Meru sebagai pusat alam semesta. Gunung Meru adalah gunung suci tempat tinggal para dewa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan. Diluar deret pegunungan yang ketujuh terdapat samudra yang melingkar dan terdapat empat benua yang terletak di keempat penjuru mata angin.

Sumber tertulis mengenai Komplek Candi Sewu tertuang dalam prasasti Kelurak 782 Masehi. Prasasti ini ditulis dengan huruf siddham dalam bahasa Sansekerta. Prasasti tersebut menyebutkan mengenai adanya upacara penasbihan Manjusri di Candi Sewu. Manjusri adalah persatuan antara dewa-dewa trimurti (Brahma, Maheswara/Siwa, dan Wisnu) dengan Budha. Dengan kata lain telah terjadi sinkritisme antara Agama Hindu dan Budha. Dalam Prasasti Kelurak juga disebutkan mengenai tokoh Daranindra, tokoh ini dalam beberapa tulisan disebutkan sebagai wangsakarta(pembentuk wangsa) Sailendra, namun menurut penulis yang lain tokoh tersebut disamakan dengan Rakai Panangkaran. Berdasarkan keterangan tersebut diduga bahwa pendiri Komplek Candi Sewu termasuk juga Candi Kulon adalah tokoh Daranindra atau dalam pendapat lain adalah Rakai Panangkaran.

Sumber : Poesponegoro M.D. dan N. Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai PustakaI Soekmono R. 2007. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius. Yogyakarta