Tag

, ,

Situs Ratu Boko adalah salah satu dari sekian banyak situs peninggalan masa klasik muda yang menyisakan banyak misteri. Situs ini terdiri dari beberapa kelompok bangunan yang tidak tergolong sebagai candi seperti layaknya bangunan klasik muda lain. Pengelompokan bangunan di Situs Ratu Boko mengacu pada mitos yang berkembang di masyarakat, yakni mengenai mitos Lorojonggrang. Dalam mitos tersebut dikisahkan bahwa Situs Ratu Boko merupakan sebuah keraton (istana)  tempat bertahta Raja Boko ayah Lorojonggrang, sehingga saat ini bangunan-bangunan di Situs Ratu Boko dikelompokkan layaknya bagian dari komplek keraton misalnya gerbang, alun-alun, paseban, pendopo dan kaputren. Akan tetapi dari sekian sumber prasasti yang berkaitan dengan Situs Ratu Boko justru memberikan keterangan yang berbeda.

Prasasti paling awal yang meyinggung tetang kepurbakalaan di bukit Ratu Boko ini adalah prasasti Abhayagirivihara keluaran Rakai Panangkaran  tahun 792 Masehi yang ditemukan di dekat teras pendopo. Prasasti ini ditulis dengan huruf siddham dalam bahasa Sansekerta. Prasasti tersebut memuat keterangan mengenai gua pertapaan dan vihara penting Sri Lanka bernama abhyagiri vihara. Vihara ini sangat berhubungan dengan vihara pertapaan yang dibangun di bukit ibu kota Sri Lanka Anudhapura. Hubungan antara Situs Ratu Boko, prasasti Abhayagirivihara dan biara Abhayagirivihara di Sri Lanka telah digaris bawahi oleh beberapa peneliti, tapi hubungan ini tidak terbatas hanya disebutkan pada prasasti melainkan juga pada arsiekturnya. Kenyataannya, sebagian besar bagian selatan Situs Ratu Boko tampaknya telah dipahami sebagai replika Anudhapura.

Keberadaan prasasti keluaran Rakai Panangkaran secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa Situs Ratu Boko pada awalnya berlatar belakang Agama Budha. Seperti kita ketahui prasasti-prasasti lain keluaran Rakai Panangkaran juga menyatakan tentang pendirian bangunan-bangunan bercorak Budha misalnya: Prasasti Kalasan 778 Masehi tentang pendirian bangunan suci Trabhawana (Candi Kalasan) dan asrama untuk para sangga (Candi Sari); Prasasti Kelurak 782 Masehi mengenai upacara Majusri di Candi Sewu. Selain dari prasasti, corak Budha pada Situs Ratu Boko juga dapat dilihat dari temuan setupa yang telah runtuh.

Sumber-sumber selanjutnya berasal dari Prasasti Siwaghra 856 Masehi. Prasasti tersebut berisikan tentang perebutan tahta antara Rakai Pikatan melawan seorang tokoh yang bersembunyi di bukit Ratu Boko. Dalam pertikaian tersebut anak Rakai Pikatan yakni Rakai Kayuwangi berhasil memukul mundur tokoh yang diduga sebagai Rakai Walaing hingga mengungsi ke atas bukit Ratu Boko. Karena lokasi tersebut strategis, Rakai Kayuwangi mengalami kesulitan sehingga Rakai Walaing mampu bertahan lama, bahkan sempat mendirikan berbagai bangunan lingga utuk Siwa sebagai upaya magis untuk memperoleh kemenangan. Namun pada akhirnya Rakai Walaing dapat dikalahkan oleh Rakai Kayuwangi. Menurut beberapa peneliti, Rakai Walaing ini dapat disamakan dengan Balaputra yang akhirnya melarikan diri ke Sriwijaya. Namun terdapat perbedaan mendasar antara tokoh Rakai Walaing dengan Balaputa. Seperti kita ketahui bahwa Balaputra adalah penganut Budha sedangkan Rakai Walaing terindikasi sebagai penganut Hindu Siwaistis.

Tokoh Rakai Walaing ini tercatat dalam tujuh buah prasasti yang kesemuanya berada di atas bukit Ratu Boko. Lima diantara prasasti tersebut berisikan mengenai pendirian bangunan lingga sedangkan dua prasasti lainnya memuat silsilah Rakai Walaing. Dari kedua prasasti tersebut diketahui Rakai Walaing pu Kumbayoni adalah cicit Sang Ratu di Halu, sayang sekali silsilahnya secara runtut sengaja dihancurkan oleh penentangnya. Sang Ratu di Halu tersebut oleh para peneliti diidentifikasikan masih memiliki hubungan kerabat dengan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Jika itu benar maka jelaslah duduk perkara pertikaian antra Rakai Pikatan dan Rakai Walaing, yakni karena sama-sama merasa berhak atas tahta Mataram. Secara tidak langsung dengan adanya pendapat tersebut jelas lah pula latar belakang perusakan silsilah sebagai upaya menghapus legitimasi yang dilakukan Rakai Walaing.

Berdasarkan sumber-sumber di atas terang bahwa Situs Ratu Boko telah mengalami perubahan fungsi dan corak. Situs yang semula merupakan vihara di masa Rakai Panangkaran ini telah beralih fungsi menjadi benteng pertahanan di masa Rakai Walaing, serta megalami perubahan dari corak Budha menjadi Hindu. Sehingga tidak mengherankan jika pada situs ini selain stupa juga dijumpai miniatur candi sebagai sarana penyembahan terhadap trimurti dan candi pembakaran yang identik dengan corak Hindu.

Sumber : Poesponegoro M.D. dan N. Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai PustakaI Degroot V. 2009. Candi, Space and Lanscape. Sidestone Press. Leiden