Tag

, ,

Situs Arca Gupolo oleh para ahli diduga sebagai sebuah situs pembuatan arca. Pada Situs Arca Gupolo ini dapat dijumpai arca-arca bercorak Hindu maupun Budha dengan ukuran yang cukup besar. Salah satu di antaranya adalah arca Siwa Mahadewa yang digambarkan memegang tombak trisula. Arca Siwa inilah yang dikenal sebagai Arca Gupolo. Penyebutan tersebut berasal dari cerita rakyat “Rorojonggrang.” Penyebutan tersebut tetap digunakan hingga kini, meski  kebenaran cerita rakyat tersebut masih dipertanyakan.

Arca Gupolo site is estimated by experts as a site of making statues. On this site can be found statues with large size, that not only have Hindu but also Budha style. One of them is a statue of Shiva Mahadeva are described holding a trisula. This statue known as Arca Gupolo. Its name comes from “Rorojonggrang” folklore. Despite the truth of folklore is still questionable, this name is still use now.

Secara administratif Situs Arca Gupolo berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Lokasinya cukup berdekatan dengan Candi Ijo, kurang lebih 2km ke arah barat Candi Ijo.  Pada lokasi Situs Arca Gupolo ini masih dapat dijumpai aktivitas-aktivitas pemujaan, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya sesaji pemujaan di sekitar situs.

Arca Gupolo is located in Sambirejo Village, District Prambanan, Sleman. The location is quite close to Ijo Temple, approximately 2 km to the west Ijo Temple. At the location of this site, can still be found worship activities, it can be proven with the offerings of worship around the site.

Situs ini diduga ditemukan pada masa kolonial Belanda, atau setidaknya ditemukan saat Republik Indonesia masih menggunakan undang-undang  kepurbakala lama yaitu Monumenten Ordonantie. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya empat buah patok pembatas yang bertuliskan dalam empat bahasa, dan salah satunya bertuliskan dalam bahasa Belanda. Patok yang berisikan pemberitahuan tersebut dihubungkan dengan pagar kawat, sehingga memagari dan melindungi situs ini.

This site is supposedly found in the Dutch colonial period, or at least found when the Republic of Indonesia is still using the old laws of archeological called Monumenten Ordonantie. This can be proven by the discovery of four stakes barrier that writen in four languages, and one of them writen in Dutch. Stakes that containing the notice is connected by a wire fence, so fencing and protecting this site.

fakta lapangan