Tag

, ,

Secara administratif Candi Kedulan berlokasi di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan,  Sleman. Candi Kedulan pertama kali ditemukan pada tahun 1993 dalam kondisi runtuh dan tertimbun pasir. Penemuan Candi Kedulan terjadi secara tidak sengaja saat sekelompok mayarakat sedang menambang pasir. Jika ditinjau dari material pasir yang menimbun Candi Kedulan, diperkirakan material tersebut berasal dari letusan Gunung Merapi.

Upaya penelitian dan pemugaran Candi Kedulan terus dilakukan. Penelitian pada tahun 2003 telah berhasil menemukan prasasti Pananggaran dan Sumudul berangka tahun 791 Saka atau 869 Masehi dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Dua buah prasasti tersebut ditulis dalam aksara palawa dengan bahasa sansekerta yang berisis mengenai pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parhyangan untuk pembuatan bendungan dan irigasi serta pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Banguanan suci Tiwahayyan tersebut diperkirakan adalah Candi Kedulan.

Berdasarkan temuan yoni pada area Candi Kedulan, diperkirakan latar belakang keagamaan Candi Kedulan adalah agama Hindu.

Semenjak di temukan pada tahun 1993 hingga tahun 2010 pemugaran Candi Kedulan masih belum usai. Bahkan ke-tiga candi perwaranya belum dapat digali secara sempurna karena berada di area milik warga. Luas area Candi Kedulan diperkirkan juga akan terus bertambah mengingat pagar timur candi masih belum ditemukan.

Diperkirakan bentuk bangunan Candi Kedulan akan menyerupai bentuk bangunan Candi Sambisari. Namun jika diamati terdapat perbedaan yang mendasar antara kedua candi tersebut. Perbedaan yang paling mencolok yakni, bangunan utama Candi Sambisari menghadap ke barat sedangkan bangunan utama Candi Kedulan menghadap ke timur; pada Candi Sambisari hanya bangunan utama saja yang memiliki pipi tangga sedangkan pada Candi Kedulan bangunan candi perwaranya juga memiliki pipi tangga;  relief di dalam makara pada Candi Sambisari menggambarkan sesosok hewan yang  menyerupai barongsai, sedangkan pada Candi Kedulan menggambarkan sesosok burung.

opini penulis